[Kajian Darat] Pietra Roosmawangca – 17.08.2019

Bismillahirrahmanirrahim

Kajian Darat MuslimRuhr

Keutamaan Nabi Ibrahim Alaihisalam

Oleh Pietra Roosmawangca

17 Agustus 2019

Hari ini tanggal 17 Agustus 2019, Hijriahnya 16 Dzulhijjah 1440. Dzulhijjah adalah satu dari empat bulan haram. Bulan Haram kata Rasull, orang yang beribadah akan dilipat gandakan pahalanya dank ata sebagian ulama juga sebaliknya, orang yang berbuat dosa akan dilipat gandakan juga dosanya, jadi ini bulan yang harus dimuliakan. Terdapat empat bulan haram dalam satu tahun. Tiga bulan berurutan dan satu bulan terpisah, yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab.

Kisah nabi Ibrahim Alaihisalam dan nabi Ismail Alaihisalam, kita awali dengan ayat Al-Qur’an surat Yusuf ayat 111.

Disini Allah berfirman bahwa dalam kisah yang disebutkan yaitu kisah Yusuf, tapi disini juga kisah secara umum akan mendapat pelajaran bagi ulil albab (yang memiliki akal). Ini bukan kisah yang dikarang-karang atau dibuat-buat jadi bukan fiksi atau fiktif. Hati-hati jika ada yang bilang ini produk budaya dan segala macam. Seperti yang kemarin sudah disampaikan dalam kajian online, sebagaimana kata-kata atau lisan bisa memasukan orang kedalam islam begitu pula kata-kata atau lisan bisa mengeluarkan orang dari islam. Jadi penting bagi kita untuk menjaga lisan, terutama berkenaan dengan tauhid.

Isi dalam Al-Qur’an secara umum bisa dibagi menjadi tiga bagian, yaitu tauhid, hukum dan kisah-kisah. Kenapa Allah memasukan kisah-kisah dan bahkan sebagian besar tentang orang-orang terdahulu baik yang shalih maupun yang sebaliknya? Karena kita sebagai manusia paling mudah melihat contoh untuk dijadikan sebagai pelajaran. Allah menceritakan kita kisah-kisah supaya kita bisa mencontoh bagaimana kita berperilaku seharusnya. Jadi, tidak hanya diberikan perintah atau larangan tetapi juga diberikan contoh agar lebih mudah bagi kita dalam menerima.

Kemudian, masuk berikutnya dengan surat Al-Hajj ayat 52

Disini Allah menyebutkan ada dua, yaitu ada Rasul dan nabi. Dalam Bahasa Al-Qur’an tidak ada dua kata yang berbeda dengan makna yang sama. Dua kata yang berbeda memiliki makna yang berbeda. Disini Allah membedakan Rasul dan nabi, pertanyaannya apa bedanya?

An-Naba artinya kabar, jadi nabi artinya adalah yang memberikan kabar, sedangkan Rasul artinya diutus. Dua-duanya diberikan wahyu hanya saja Rasul memberikan syariat baru sedangkan nabi mengingatkan syariat yang disampaikan oleh Rasul sebelumnya. Rasul sudah pasti nabi sedangkan nabi belum tentu Rasul. Orang yang didakwahinya juga berbeda, nabi berdakwah pada kaum yang sudah diberi kewajiban sedangkan Rasull ditambah kepada kaum yang menyelisihi perintah Allah. Beberapa contoh Rasull yaitu Isa Alaihisalam, Muhammad Shallallahu Alaihi Wasalam atau Rasull yang pertama, Nuh Alaihisalam. Terdapat perbedaan antara Rasul yang terakhir Muhammad Shallallhu Alaihi Wasalam dengan Rasul sebelumnya, yaitu para Rasul yang datang sebelumnya diutus hanya untuk kaumnya saja, seperti Rasul yang diutus pada waktu yang bersamaan tetapi wilayahnya berbeda seperti nabi Ibrahim Alaihisalam dengan nabi Luth Alaihisalam, sedangkan Rasul yang terakhir diutus untuk seluruh alam semesta. Jadi kaumnya nabi Luth Alaihisalam tidak mengikuti syariatnya nabi Ibrahim Alaihisalam begitupun sebaliknya. Maka, dalam sirah nabawwiyah, kaum quraisy yang dikatakan agamanya masih lurus yaitu mereka yang mengikuti syariat nabi Ibrahim Alaihisalam, karena antara nabi Ibrahim Alaihisalam dan nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasalam tidak ada Rasul diantaranya sedangkan dari Bani Israil ada banyak nabi dan Rasul seperti Ya’qub, Yusuf, Isa Alaihimusalam.

Dalam surat Al-Hajj ayat 78 disebutkan

Disini Allah menggunakan kata abiikum, ayah kalian. Jadi Ibrahim Alaihisallam tidak hanya dilihat sebagai seorang nabi dan Rasul tetapi juga dilihat sudut pandangnya sebagai seorang ayah.

Jika dilihat dari silsilah. nabi Ibrahim Alaihisalam memiliki dua anak yaitu anak yang pertama nabi Ismail dan anak yang kedua yaitu nabi Ishaq, kemudian dari keduanya turun banyak keturunan dan nabi sehingga agama yang datang setelahnya jika dirunut akan berujung pada nabi Ibrahim Alaihisalam. (Pada gambar) terdapat dua bagian yang berbeda karena nabi Ishaq dan nabi Ismail berada di wilayah yang berbeda. nabi Ismail berada di Mekkah sedangkan nabi Ishaq berada di Syam. Bani israil terdapat pada bagian kiri, maka orang-orang yang di mekah tidak mengikuti syariatnya bani israil karena bukan wilayahnya. Bani Israil artinya Keturunan Israil, nama lain Israil adalah Ya’qub Alaihisalam.

nabi Musa berada setelah nabi Yusuf Alaihisalam. nabi Yusuf dalam akhir kisahnya membawa keluarganya ke mesir, kemudian di mesir memiliki keturunan terus sampai ke nabi Musa Alaihisalam. Kemudian bani israil dibawa oleh asistenya nabi Musa, Yusya bin Nun Alaihisalam, kembali ke baitul maqdis.

Nabi Ibrahim Alaihisalam diriwayatkan memiliki dua istri, yaitu Sarah dan Hajar. nabi Ibrahim bukanlah orang arab melainkan berasal babylon, kemudian pindah ke Syam dan bertemu Sarah kemudian pindah ke Mesir dan mendapatkan pembantu bernama Hajar. Karena nabi Ibrahim dan Sarah Alaihimasalam tidak kunjung memiliki keturunan maka Sarah akhirnya memberikan saran agar nabi Ibrahim menikahi pembantunya Hajar. Kemudian setelah mendengar Hajar hamil, muncul kecembururan pada Sarah sehingga mengharuskan nabi Ibrahim atas perintah Allah memindahkan Hajar dan nabi Ismail ke Mekah. Kemudian setelahnya banyak keturunan nabi Ibrahim Alaihisalam menjadi nabi, maka nabi Ibrahim disebut sebagai Abbul Anbiyya bapaknya para nabi.

Dari bagian kiri (nabi Ishaq) muncul keturunan nabi banyak sekali bahkan ada yang tidak disebutkan contohnya Yusya bin Nun Alaihisalam sedangkan dari bani Ismail, baru muncul lagi nabi setelah nabi Ismail yaitu Muhammad Shallallahu Alaihi Wasalam. Dari bani Israil, jika meninggal nabi dari kalangan mereka, maka akan diutus seorang nabi yang baru dari kalangan mereka, sehingga kalangan bani israil sering membunuh nabi mereka jika mereka tidak suka dengan nabinya karena mereka tahu jika nabi mereka meninggal akan diutus nabi yang baru. Bahkan terhadapa nabi Isa Alaihisalam pun mereka membuat makar, mereka menganggap mereka telah membunuh nabi Isa Alaihisalam walaupun mereka dalam Al Qur’an dikatakan mereka membunuh tapi mereka tidak yakin apakah kebenarannya, kemudian Allah berkata bahwa sesungguhnya nabi Isa itu diangkat oleh Allah. Setelah itu terputuslah kenabian dari bani israil. Disaat mereka menunggu nabi yang baru ternyata muncul nabi dari bani ismail dari jalur sebelahnya.

Nabi Ibrahim mengatur keluarganya menjadi dua. Hajar dan Ismail di Mekah sedangkan Sarah dan Ishaq di Syam, berbeda dengan nabi Muhammad Shallalllahu Alaihi Wasallam yang memisahkan istri-istrinya dengan sekat. Nabi kita yang utama adalah Muhammad Shallallahu Alaihi Wasalam dan disini ada beberapa yang Allah sandingkan Muhammad dengan nabi Ibrahim Alaihisalam.

Keutamaan yang pertama adalah sebagai kekasih Allah. Dalam hadits riwayat imam Muslim, Rasul Shallallahu Alaiahi Wasalam berkata „Sungguh aku memohon kepada Allah akan memilih aku diantara kalian sebagai kekasih Allah, maka Allah Ta’ala memiligku sebagai kekasihNya sebagaimana Allah menjadikan Ibrahim juga kekasihNya. Seandainya aku memilih diantara umatku seorang kekasih, maka aku akan memilih Abu-Bakr sebagai seorang kekasihku”. Di dunia ini hanya ada dua orang yang boleh disebut khalilullah atau khalilrahman atau kekasih Allah yaitu nabi Ibrahim dan nabi Muhammad, maka tidak diperbolehkan kita memberi nama anak khalilullah atau khalilrahman.


Keutaman nabi Ibrahim Alaihisalam yang keedua yaitu menjadi teladan, Allah berfirman dalam surat Al-Ahzab ayat 21 bahwa dalam diri Rasulullah terdapat suri teladan yang baik. Kata uswatun hasanah hanya disebutkan tiga kali. Yang pertama ditunjukan pada Muhammad Shallallahu Alaihi Wasalam pada surat ini, yang kedua pada Nabi Ibrahim Alaihisalam dalam surat Mumtahanah ayat 4 dan yang ketiga tidak disebutkan merujuk pada siapa. Jadi, Allah menyebutkan dalam Al-Qur’an nabi Ibrahim dan nabi Muhammad sebagai uswatun hasanah.

Keutamaan yang ketiga adalah shalawat terbaik. Terdapat dua nama yang ada dalam bacaan shalat dan dua orang yang namanya didoakan setiap detiknya oleh kaum muslimin diseluruh dunia yaitu Ibrahim dan Muhammad. Pertanyaannya, manakah yang lebih mulia, Nabi Ibrahim Alaihisalam atau Muhammad Shallallahu Alaihi Wasalam? Tentu yang lebih tinggi derajatnya di sisi Allah adalah Muhammad Shallallahu Alaihi Wasalam tetapi diriwayatkan ada satu keutamaan nabi Ibrahim Alaihisalam yang tidak disebutkan kepada nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasalam, yaitu bahwa pada saat manusia di padang mahsyar nanti, seluruh manusia akan dibangkitkan telanjang dan belum di khitan, kemudian manusia pertama yang diberi pakaian oleh Allah Ta’ala adalah nabi Ibrahim Alaihisalam. Ada ulama yang menafsirkan, dahulu saat nabi Ibrahim Alaihisalam bajunya dibuka oleh kaumnya disaat beliau akan dilemparkan ke api, maka sebagai gantinya Allah berikan pakaian pertama kali.


Dalam Al-Qur’an setidaknya terdapat tiga tema yang membahas tentang nabi Ibrahim Alaihisalam.

Hal yang pertama adalah tauhidnya nabi Ibrahim Alaihisalam. Disini dalam bahasa arab walam yaku minal musyrikiin maknanya menegasikan masa lampau, yang berarti bahwa nabi Ibrahim Alaihisalam itu tidak pernah sama sekali berbuat syirik tetapi pertanyaanya? Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa nabi Ibrahim melihat bintang kemudian kata beliau “inilah tuhan” kemudian pada saat bintang itu terbenam beliau berkata “aku tidak suka sesuatu yang terbenam”, bukankah ini suatu kesyirikan? Jawabannya dalam tafsir Ibnu Katsir yaitu nabi Ibrahim Alaihisalam sedang mendebat kaumnya seperti halnya pada saat beliau Alaihisalam mendebat kaumnya yang menyembah patung. Pada saat patung-patung tersebut dihancurkan, beliau mengatakan bahwa yang menghancurkan patung-patung itu adalah patung yang lebih besar dan mempersilahkan kaumnya untuk bertanya pada patung yang paling besar tersebut, kemudian kaumnya menjawab bahwa patung besar tersebut tidak bisa berbicara, kemudian nabi Ibrahim Alaihisalam menjawabnya dengan bertanya kenapa patung tersebut disembah jika ia tidak bisa berbicara dan tidak bisa bergerak.

Tema yang kedua adalah ketaatan nabi Ibrahim Alaihisalam dalam surat Al-Baqarah ayat 124. Jadi, setiap Allah menguji Ibrahim Alaihisalam, maka beliau Alaihisalam melaksanakan ujiannya dengan sempurna.

Kemudian tema yang ketiga adalah tentang keluarga, dalam surat Ali Imran ayat 33. Allah menyebutkan Adam, Nuh kemudian begitu masuk Ibrahim, Allah tidak menyebutkan hanya Ibrahim tetapi keluarga Ibrahim wa aala Ibrahima. Nabi Ibrahim memiliki dua anak tetapi dalam Al-Qur’an yang lebih banyak dikisahkan adalah kisah nabi Ibrahim dan nabi Ismail Alaihimusalam. Sebelum masuk pada kisah nabi Ibrahim dengan anaknya, kita kupas dulu bagaimana nabi Ibrahim berinteraksi dengan ayahnya.

Ayahnya nabi Ibrahim Alaihisalam bukan hanya penyembah patung tetapi juga yang membuat patung, jadi nabi yang bertauhid harus berdakwah kepada ayahnya yang menjadi sumber kesyirikan, tetapi kemudian nabi Ibrahim berdakwah pada ayahnya sebagaimana disebutkan dalam surat Maryam 41-44 menggunakan kata “yaa abati”. Dalam bahasa arab ada beberapa panggilan kepada ayahnya dan yang paling tinggi dan halus adalah abati. Jadi, nabi Ibrahim Alaihisalam berdakwah pada ayahnya dengan sangat lembut. Bahkan saking sayangnya nabi Ibrahim pada ayahnya, beliau berkata “aku akan memohonkan ampun bagimu, sesungguhnya tuhanku itu sangat baik terhadapku” tetapi kemudian Allah larang karena tidak diperbolehkan memohon ampunan bagi orang-orang musyrik.

Allah juga kisahkan dalam surat Asy-Syu’ara tentang tujuh orang nabi yaitu nabi Ibrahim, Musa, Nuh, Hud, Shaleh, Luth dan Syu’aib Alaihimusalam. Dari tujuh orang nabi, lima orang berkat saat berdakwah “sesungguhnya aku tidak meminta imbalan dari kalian karena imbalanku hanya datang dari Allah Tuhan semseta alam.”. Dua nabi yang tidak mengucapkan adalah nabi Musa dan Ibrahim Alaihimusalam. Kenapa? Apa bedanya dua nabi itu dengan lima nabi yang lainnya? Bahwasanya nabi Ibrahim dan nabi Musa Alaihimusalam berdakwah kepada ayah mereka. Secara tersirat Allah ingin memberikan pelajaran bahwa untuk berdakwah kepada orangtua tetap harus dengan adab. Sejahat-jahatnya firaun, Allah menyuruh nabi Musa Alaihisalam untuk menyeru dengan kata-kata yang lembut.


Kemudian bahasan tentang keluarga nabi Ibrahim Alaihisalam yang kedua yaitu tentang doa nabi Ibrahim Alaihisalam untuk keturunannya. Disini terdapat dua ayat dimana nabi Ibrahim berdoa:

Perbedaan terdapat pada kata yang digaris bawahi, yang satu dikasih alif lam yang satu tidak, jika dalam deutsch yang satu pakai artikel yang satu tidak, yang satu bestimmt yang satu unbestimmt. Ulama tafsir mengatakan perbedaan terdapat pada waktu berdoanya. Pada saat nabi Ibrahim mengantarkan Ismail dan Hajar Alaihimusalam ke Mekah, maka beliau langsung meninggalkan keduanya. Pada saat ditanya oleh Hajar „kenapa engkau meninggalkan kami disini?“ beliau tidak menjawab dan terus berjalan kemudian ketika ditanya „apakah ini perintah dari Allah?“ maka beliau Alaihisalam mengiyakan. Kemudian setelah nabi Ibrahim Alaihisalam pergi sampai tidak terlihat lagi oleh keduanya, maka beliau Alaihisalam berdoa dengan doa yang terdapat pada surat Al-Baqarah pada saat Mekah belum menjadi sebuah negeri, bahkan manusia saja hanya dua. Kemudian setelah kembali beliau berdoa dengan doa yang terdapat pada surat Ibrahim disaat Mekah telah didatangi oleh orang-orang. Sempat dibahas pada kajian lenggang sebelumnya, bagaimana Mekah menjadi sebuah negeri. Setelah Allah memerintahkan Hajar Alaihasalam bolak-balik safar marwah maka Allah memberikan sumur zam zam, tidak lama kemudian ada rombongan dari Yaman yang lewat, pada saat itu mereka melihat ada burung dan mereka tahu bahwasanya jika ada burung maka disekitar situ ada air. Akhirnya saat didatangi ternyata disana ada mata air zam zam, kemudian singkatnya menjadi banyaklah penduduk mekah dan menjadi negeri.

Pada saat belum menjadi negeri, nabi Ibrahim meminta yang pertama adalah keamanan, lingkungan yang aman untuk anak dan istrinya tinggal. Terdapat dua nikmat yang besar yaitu nikmat aman dan nikmat rezeki, mana yang lebih besar? Keamanan adalah nikmat yang lebih besar, ulama mencontohkan jika ada kambing dikasih makanan tapi disebelahnya terdapat serigala dalam kandang, apakah akan makan kambingnya? Maka jika ada manusia sebanyak apapun rezekinya jika tidak merasa aman, maka tidak akan menjadi nikmat.

Kemudian nabi Ibrahim Alaihisalam berdoa untuk kelimpahan rezeki, tetapi ada syaratnya yaitu bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir. Kemudian Allah menjawab, bagi orang-orang kafir Allah kasih nikmat sementara. Ini adalah bentuk kasih sayang dan keadilannya Allah bahwa yang diberi rezeki itu bukan hanya orang yang beriman melainkan kafir-pun akan diberi rezeki, tetapi bagi orang kafir hanya akan Allah kasih sementara.

Kemudian setelah ada negeri, doa yang diminta oleh nabi Ibrahim Alaihisalam yaitu perlindungan terhadap penyembahan berhala.

Dalam Juz ’Amma terdapat beberapa jawaban Allah terhadap do’a nabi Ibrahim Alaihisalam. Dalam surat Al-Fiil, Allah menjawab dan mengabulkan doa nabi Ibrahim memberikan keamanan bagi negeri Mekah. Pada saat Mekah sedang terancam diserang oleh Abrahah dan tentaranya maka Allah utus kepada mereka burung yang berbondong-bondong. Diriwayatkan burung-burung itu membawa tiga batu dari neraka, dua pada kaki-kaki mereka dan satu pada paruh-paruh mereka dan jika mengenai orang-orang yang akan menyerang ka’bah maka akan tembus hingga belakang.

Kemudian do’a nabi Ibrahim Alaihisalam mengenai rezeki dan buah-buahan Allah jawab dalam surat Al-Quraisy. Allah jawab jalur rezeki tersebut dengan jalur pedagangan. Mereka kaum Quraisy disaat musim dingin pergi ke Yaman dan disaat musim panas pergi ke Syam sehingga walaupun negeri itu tidak tumbuh tanaman tetap lancar rezeki.


Bahasan yang ketiga tentang keluarga nabi Ibrahim Alaihisalam yaitu tentang perintah Allah kepada nabi Ibrahim untuk menyembelih nabi Ismail Alaihimusalam. Ketika nabi Ibrahim Alaihisalam diberi wahyu oleh Allah di dalam mimpinya berkali-kali maka datang nabi Ibrahim kepada nabi Ismail untuk dimintai saran, beliau berkata „sesungguhnya aku bermimpi, aku akan menyembelihmu“. Maka nabi Ismail menjawab yang paham bahwasanya ayahnya yang seorang nabi dan mimpinya adalah sebuah wahyu yang harus ditunaikan „wahai ayahandaku, laksanakanlah apa yang telah diperintahkan kepadamu, mudah-mudahan Allah mendapatiku sebagai orang yang sabar“. Ini membuktikan bahwa nabi Ibrahim mendidik anaknya sebaik mungkin sehingga anaknya menjadi shaleh dan paham bahwa ayahnya adalah seorang nabi yang diberikan perintah oleh Allah dan wajib untuk mentaati perintah Allah.

Sebagaimana sebelumnya telah disebutkan, balasan sebuah kebaikan itu tergantung amalnya. Ulama mengatakan bahwa Allah menguji nabi Ibrahim Alaihisalam dengan orangtuanya yang syirik dan melaksanakannya dengan baik, maka Allah berikan nabi Ibrahim Alaihisalam anak yang shaleh, tidak hanya satu. Bahkan anak cucunya dari nabi Ibrahim banyak yang Allah angkat menjadi nabi. Riwayat mengisahkan, terdapat suatu waktu didalam keramaian seorang anak sedang memukuli seorang yang tua kemudian orang-orang yang melihat berkata „ini anak kok mukulin orangtua, mana bapaknya?“ kemudian orang tua yang dipukulin menjawab „saya bapaknya.“ Kemudian orang-orang menahan anaknya dan bertanya „ini bapakmu, kenapa kamu pukuli?“ kemudian bapaknya menjawab „biarkan, karena dahulu ditempat ini, saya memukuli bapak saya“. Maka kata Rasul Shallallahu Alaihi Wasalam bahwa ada dua adzab yang Allah dahulukan di dunia sebelum nanti di akhirat. Yang pertamaadalah durhaka kepada orangtua yang kedua berbuat dzalim. Maka, jika ada kesulitan atau masalah yang tidak kunjung selesai baiknya ditinjau ulang hubungannya dengan orangtua.


Kemudian dalam riwayat yang lain dikisahkan pada saat nabi Ismail akan dipotong oleh ayahnya nabi Ibrahim Alaihimasalam, maka beliau meminta tiga permohonan yaitu yang pertama agar dikencangkan ikatannya supaya tidak berontak, yang kedua agar ditajamkan pisaunya supaya cepat, maka Allah jadikan dua permohonan ini sebagai sunnah saat menyembelih hewan qurban. Kemudian yang ketiga, nabi Ismail memberikan pakaiannya dan meminta agar diberikan kepada ibunya. Kemudian seperti yang umum diketahui, Allah ganti nabi Ismail dengan sembelihan yang besar.

Bahasan selanjutnya tentang keluarga nabi Ibrahim yaitu kisah tentang bagaimana nabi Ibrahim dan nabi Ismail Alaihimasalam meninggikan pondasi Ka’bah. Ka’bah bukan dibangun oleh nabi Ibrahim dan Ismail Alaihimasalam, tetapi mereka hanya meninggikan pondasinya saja karena ka’bah itu hancur pada saat banjir yang Allah timpakan pada zaman nabi Nuh Alaihisalam kemudian Allah perintahkan nabi Ibrahim dan Ismail Alaihimasalam untuk meninggikannnya. Kemudian, setelah melaksanakannya berdua, Ibrahim dan Ismail Alaihimasalam berdoa dalam surat AL-Baqarah ayat 127 agar Allah menerima amal mereka seraya memuji Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Pada ayat selanjutnya mereka berdoa agar Allah mengutus kepada mereka sebagai Rasul dari kalangan mereka yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah yang membacakan kepada mereka Al-Kitab dan Al-Hikmah. Jawabannya adalah Muhammad Shallallahu Alaihi Wasalam yang diutus sekian ribu tahun setelah doa nabi Ibrahim dan Ismail dimunajatkan. Maka hendaknya kita bersabar dalam doa-doa kita.

Kemudian hal yang harus perhatikan tentang doanya nabi Ibrahim adalah bahwa nabi Ibrahim berdo’a setelah melakukan sebuah ibadah. Seperti do’a nabi Ibrahim untuk keamanan negeri Mekah adalah do’a yang dimunajatkan ketika nabi Ibrahim Alaihisalam melaksanakan perintah Allah mengantarkan Hajar dan Ismail Alaihimasalam begitu juga ketika nabi Ibrahin dan Ismail Alaihmasalam setelah meninggikan pondasi ka’bah. Dalam surat Al-Fatihah itu iyya kana’budu wa iyya kanas ta’im bukan iyya kanas ta’im wa iyya kana’budu. Hanya kepadaMu aku beribadah dan hanya kepadaMu aku memohon pertolongan. Ulama mengatakan disini, ayat ini dibagi menjadi dua yaitu hak Allah dan kewajiban hamba dan yang kedua adalah hak kewajiban dari Allah, artinya kewajiban kita sebagai hamba adalah beribadah hanya kepada Allah kemudian kita mendapati hak pertolongan. Maka ketika kita berdo’a kita harus menimbang apakah kita sudah layak menjadi orang yang dikabulkan do’anya. Dalam bahasan cara berdo’a atau adab berdo’a yang baik dana pa yang bisa membantu do’a agar cepat terkabul atau istilahnya tawassul dan salah satu diantara tiga tawassul yang diperbolehkan adalah dengan amal shaleh. Maka diperbolehkan kita tawassul dengan amal shaleh kita supaya do’a kita cepat dikabulkan oleh Allah Ta’ala.


Sebagai penutup, jika ada orang berdo’a “semoga Allah menghangatkan matamu” adalah do’a yang baik atau do’a yang buruk? Hal yang pertama adalah jika seseorang menangis lama, kira kira matanya akan terasa panas atau hangat. Terdapat syair dari seorang yang sukunya dibunuh habis kemudian beliau mengatakan bahwa “darah-darah kalian akan menghilangkan panasnya mata kaumku” artinya kaumnya sudah banyak menangis dan ingin membalaskan dendamnya. Hal yang kedua adalah bahwa orang-orang menggunakan sorban agar mata mereka tidak terkena pasir. Maka dalam surat Al-Furqan:

Maka kata Rasul Shallallahu Alaihi Wasalam bahwa rumah yang baik adalah rumah yang lapang, lapang disini bukan berarti luas karena rumah Rasul pun tidak besar. Juga kata Rasul Shallallahu Alaihi Wasalam bahwa keluarga yang baik adalah keluarga yang pada saat seseorang diluar itu dia merasa tidak nyaman, kemudian disaat pulang, matanya merasa sejuk.

Subhaanakallaahuma wabihamdika wa asyhadu al-laa ilaaha ilaa anta wa astaghfiruka wa atuubu ilaik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *