Meneladani Pasca Ramadhan & Halal bi Halal

Pengajian Agustus 2014

Tempat : rumah Ibu Siti Julaiha Gruebner, Essen

Waktu : 24 August 2014

Serempak satu persatu berbondong kawan-kawan pencari ilmu muslim Ruhr pagi itu berkumpul di kediaman Mbak Juleha, di Essen. Tawa canda memulai aktivitas pagi itu. Terik matahari yang malu-malu pun juga bersiap menyapa kami. Sooo, let’s check it out guys. :))

Di mulai dengan pembukaan oleh Sdr. ketua muslim Ruhr dan langsung dilanjutkan materi oleh Ustad Maimun yang jauh-jauh dari Bremen.

Ustad maimun :

“Dosa, dosa dengan Alloh akibatnya pun dengan Alloh juga balasannya. Tetapi jikalau dengan sesama manusia tidak semudah itu. Misal : si A mencuri sandal si B, lalu si A ingin meminta maaf kepada si B. Permintaan maaf tersebut akan tersampaikan jika keduanya bertemu dan saling memaafkan dan bahkan menurut Imam Al- Ghozali, sandal tersebut harus dibawa sekalian, atau terserah permintaan si A sampai si A memaafkannya.

Karena orang yang yang memaafkan pahalanya jauh lebih besar dari yang meminta maaf. Memaafkan itu hal yang sangat baik dan besar tindakannya. Jadi jangan ditunda-tunda untuk saling maaf memaafkan.

1961980_844244055599463_4543935954870455722_o

Ada 3 hal minimal orang yang selesai menunaikan puasa Romadhon, dan 3 hal ini harus terus dijalani.

  1. Keikhlasan

Didalam ibadah, puasa adalah satu-satunya ibadah yang tidak terlihat amalannya. Infaq terlihat, zakat terlihat juga, haji jelas terlihat, orang mencari ilmu ya jelas terlihat , bawa laptop atau pulpen. Tetapi orang yang berpuasa sama sekali tidak terlihat . Kalau lagi dirumah misalnya, ga ketahuan ambil roti atau nasi. Didalam bulan Romadhon, kita dididik supaya paham keihkalasan dalam beribadah. Walaupun orang lain tidak tahu apa yang sedang kita kerjakan untuk beribadah, tetapi kita selalu berusaha untuk menjaga keutuhan ibadah tersebut untuk emncari ridho –Nya.

Dari contoh Ali, si santri desa dan Umar temannya. Si Ali suatu hari membawa singkong kepada sang Kyai. Eh ga disangka, pulang-pulangnya dibawain kambing. Terus dijalan Ali bertemu Umar , karena kepengin mencoba, Umaringin mendapatkan sesuatu yang lebih besar dengan jalan bersilahturahmi ke Kyai dan dengan membawa durian. Dan ternyata yang diberikan adalah singkongnya Ali. Dari situ Umar sangat kecewa dan kesal.

Dari sekilas contoh tersebut hati yang ikhlas jauh berbeda efeknya dengan hati yang selalu berfikir dunia, bisnins dan sebagainya. Membersihkan duri di jalan sampai bersih misalnya yang kecil-kecil tapi dilakukan dengan ikhlas akan lebih berpahala dibandingankan dengan amalan-amalan besar seperti solat tahajud tiap malam, yang ingin dianggap soleh, haji tetapi niatnya ingin menunjukkan kekayaannya. Rasa ingin dipuji ini yang membuat amalan rusak dan tak berpahala. Jadi kembali ke niat, kalau niatnya ikhlas ya tentu saja Allah meridhai amalannya.

10628662_844244248932777_677460908722722690_o

2. Maiyatullah (selalu merasa ada bersama Allah)

Puasa misalnya, dipojok kamar tidak tahunya makan sendiri dan sebagainya tidak ada orang yang melihat. Karena Allah itu ada dan dekat dengan kita. Kalau romadhon kita selalu bermaiyah kepada Alloh, maka setelah itu harus dibawa sikap seperti ini. . Jika kita memiliki niat untuk melakukan hal-hal yang diharamkan oleh Allah maka selalu ingat dimana Allah? Jika Maiyatullah dating kepada pemimpin-pemimpin, maka negeri ini akan tentram. Ketika melakukan sesuatu harus sesuai dengan aturan syariat Isalam, ingat, Allah selalu ada, maka datangkanglah makna maiyatullah.

10548239_844244015599467_1977146216168321675_o

3. Istiqamah (selalu berada di jalan Allah)

Dari Al-Ghazali, ramadhan itu ibarat air putih yang dicelupkan pewarna biru. Bila berkali-kali maka akan berubah warna. Sama halnya dengan ramadhan, terbiasa melakukan banyak ibadah saat ramadhan itu sejatinya untuk menyiapkan bulan-bulan selanjutnya agar bias lebih banyak beribadah.”

Akhirnya semoga semua ibadah yang kita jalani semua di bulan Romadhon dan lainnya diterima Alloh SWT dan menjadi seorang yang istiqomah selalu di jalanNya. Aamiiin.

10636706_844244985599370_7953465903240856292_o

Makan-makan dan salam-salam layaknya Halal- bi Halal ala Indo pun disambung setelah sang Ustad selesai memberikan materinya. Sambil makan, sambl bercengkerama, di siang yang tak begitu panas dan pula tak begitu dingin. Hangat suasana membuat akhir bulan Syawal kala itu begitu meriah dan khusyuk. (red)

edited by : dc

Photographer : Hesty

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *