Menjadi bagian Umat yang Wasath

Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh,

Segala puji hanya milik Allah dan Shalawat serta salam selalu tercurah untuk Nabi Muhammad ﷺ. Semoga tulisan ini menjumpai warga sekalian dalam keadaan sehat wal afiat. Alhamdulillah Ahad kemarin (01/03) warga Muslim Ruhr bisa kembali mengadakan pengajian bulanan untuk bulan Februari 2015. Pengurus menyampaikan permohonan maaf terkait keterlambatan pelaksanaan pengajian bulanan ini.

Ada beberapa hal yang spesial dari pengajian kali ini karena:

  • Pengajian kemarin adalah pengajian kedua terakhir di kepengurusan yang sekarang. Insya Allah pada pengajian bulanan Maret 2015, proses suksesi pergantian ketua Muslim Ruhr akan dilaksanakan.
  • Muslim Ruhr memiliki beberapa keluarga baru, baik yang baru tinggal di Duisburg maupun yang baru sampai di Dortmund.

Pengajian kali ini dibawakan oleh ustadz kita, bapak H. Asep Ridwan, MT yang membawakan materi tentang “Ummatan Wasathan”. Tema ini diminta oleh pengurus dikarenakan beberapa isu hangat yang sedang muncul di kalangan umat Islam di dunia. Di satu sisi, sebagian umat Islam terjebak dalam sikap ekstrim dan tidak toleran. Di sisi lain umat Islam tidak percaya diri pada agamanya dan memutuskan untuk melepaskan identitas ke-Islamannya, baik sebagian maupun keseluruhan. Oleh karena itu, sangatlah penting bagi warga Muslim Ruhr untuk memahami bagaimana sesungguhnya karakteristik umat Islam sebagai umat yang terbaik, umat pertengahan, umat yang adil; yang memiliki aqidah dan iman yang kuat sekaligus memiliki kontribusi dan toleransi pada masyarakat.

Pak sedang menyampaikan materi
Pak Asep sedang menyampaikan materi
photo 2
Warga mendengarkan materi yang disampaikan dengan seksama

Materi yang disampaikan oleh pak Asep adalah sebagai berikut:

““Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Dan kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang), melainkan agar kami mengetahui (dengan nyata) siapa yang mengikuti rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu merasa berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah; dan Allah tidak menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang kepada manusia.” (surat Al-Baqarah ayat 143)

Berdasarkan tafsir Ibnu Katsir, dalam ayat ini Allah SWT menuturkan, “ Sesungguhnya Kami mengubah kiblat kalian ke kiblat Ibrahim AS dan Kami pilih kiblat itu untuk kalian agar Kami dapat menjadikan kalian sebagai umat pilihan, agar pada hari kiamat kelak kalian akan menjadi saksi atas umat-umat yang lain, karena semua umat mengakui keutamaan kalian.”

Imam Bukhari meriwayatkan dari al-Barra’, bahwa Rasulullah SAW mengerjakan shalat dengan berkiblat ke Baitul Maqdis selama 16 atau 17 bulan. Dan beliau senang jika kiblatnya mengarah Baitullah. Shalat yang pertama kali beliau kerjakan dengan menghadap Ka’bah adalah shalat ashar. Turunnya perintah pindah kiblat terjadi pada tahun 2 Hijriyah saat Rasulullah SAW dengan para sahabatnya shalat dzuhur sudah 2 rakaat di Masjid Bani Salamah-Madinah, kemudian tiba-tiba turunlah wahyu surat Al Baqarah ayat 144, yang artinya:

“Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Alkitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.”.

Maka Rasulullah SAW menghentikan sementara shalatnya dan memindahkan kiblatnya ke arah Baitullah. Makanya masjid ini sekarang dikenal Masjid Qiblatain (2 kiblat).

Allah SWT mensyariatkan kepada Rasulullah SAW pertama kali menghadap Baitul Maqdis, lalu dipalingkan menghadap Baitullah agar tampak jelas siapa-siapa saja orang yang mengikuti dan menaati Rasulullah SAW dan siapa-siapa saja yang membelot atau murtad dari agamanya.

Ketika Allah menjadikan umat ini “Ummathan wasathan” – Adil dan Pilihan, maka Dia memberikan kekhususan kepadanya dengan syariat yang paling sempurna, jalan yang paling lurus, dan paham yang paling jelas. Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Sa’id, bahwa Rasulullah SAW bersabda : Pada hari kiamat kelak, Nuh AS diseru dan kemudian ditanya, “Apakah engkau telah menyampaikan risalah?” “Sudah”, jawab Nuh. Kemudian kaumnya diseru dan ditanya, “Apakah Nuh telah menyampaikan risalah kepada kalian?” Mereka pun menjawab, “Tidak ada pemberi peringatan dan tidak seorang pun yang datang kepada kami”. Setelah itu Nuh diseru lagi, “Siapakah yang dapat memberi kesaksian untukmu?” Jawab Nuh,”Muhammad dan umatnya.”

Ketika menafsirkan ayat “Ummatan wasathan “ tersebut, at-Thabari mengartikannya sebagai udulan (umat yang adil) dan khiyar(pilihan). Umat pilihan adalah umat yang berlaku adil. Ibnu Katsir juga menyatakan yang dimaksud ayat 143 al-Baqarah tersebut adalah al-khiyar wa al-ajwad(pilihan dan yang terbaik).

Menurut Dr.Yasir Qadhi –Ulama dari AS- dalam ceramahnya dengan judul “ In Pursuit of The Middle Path”, 23 Maret 2014. Beliau mengatakan, ciri – ciri umat yang “wasath”, yang akan menjadi umat pilihan sebagai berikut :

1. Adil atau Seimbang dalam menempatkan iman dan amal.

Kita harus seimbangkan antar iman dan amal. Tidak hanya beriman dalam ketauhidan kepada Allah SWT tapi disertai dengan beramal soleh yang didasari dengan Iman. Selain didasari iman, amal akan diterima oleh Allah SWT yang didasari oleh ilmu.

Bagaimana hubungannya Iman, Amal dan Ilmu.

Amal sholeh yang diterima oleh Allah SWT dengan 2 syarat :

  • Iman kepada Allah SWT yang akan menghasilkan keikhlasan, tidak riya atau Sum’ah, semata-mata karena Allah SWT.
  • Beda Riya dan Sum’ah (dalam Fathul Bari), Riya : seseorang yang beramal bukan karena Allah SWT, sedang Sum’ah : sikap seseorang yang menyembunyikan amalnya karena Allah, tetapi ia bicarakan kepada kepada manusia.

Berbicara tentang Riya dan Sum’ah, hanya Allah yang mengetahui kita riya atau tidak.

  • Mencari Ilmunya untuk menjalankan tata cara dalam beramal. Contoh : Sholat, Shaum, dsb.
  • Pesan keseimbangan ini bahwa kita jadi umat yang Wasath, jika tidak hanya menyakini Allah SWT dalam segala hal tapi buktikan keimanan itu dengan Amal soleh yang konkrit. Iman ini menjadi dasarnya dalam Beramal. Soalnya phenomena ini banyak terjadi di Indonesia.Cukup Beriman saja pada Allah tapi Amalnya kurang atau malah diabaikan.Juga tidak cukup ilmu saja dikejar terus tetapi Amalnya kurang malah diabaikan…(Itu bukan Umat yang Wasath)

2. Adil atau Seimbang dalam meyakini adanya takdir dan kebebasan untuk memilih.

Kita harus meyakini adanya takdir  atau Qadla/Qadar, salah satu rukun Iman.Semua hal yang terjadi pada kita sudah ditakdirkan oleh Allah SWT, tetapi kita harus seimbangkan dengan ihtiar yang maksimal. Sudah banyak contoh di zaman Rasulullah SAW, bahwa kita diperintahkan tidak hanya mengandalkan takdir semata (bertawakal) tetapi harus berihtiar

Kita sudah mengetahui Jodoh, Ajal dan Rezeki sudah ditakdirkan oleh Allah sejak di masa kandungan. Kita menjalani hidup ini dalam rangka menjalani satu takdir ke takdir berikutnya.. Jangan juga kita berpikir “tidak ngapa-ngapain kan sdh ditakdirkan oleh Allah”, justru karena kita tidka tau takdir yang ditetapkan oleh Allah, kita punya pilihan-pilihan untuk beramal lebih baik, bekerja lebih baik, dan hidup lebih baik.

  • Pesan keseimbangan ini bahwa kita jadi umat yang Wasath, jika tdk hanya mengandalkan kepada takdir tetapi seimbangkan dengan ihtiar/usaha semaksimal mungkin karena kita diberikan kebebasan untuk memilih apakah kita ingin sukses di dunia dan akherat atau tidak ….(Itulah Umat yang Wasath)

3. Adil atau Seimbang dalam menempatkan iman kepada ghaib dan mendorong orang untuk menggunakan akalnya untuk belajar

Kita harus menempatkan keseimbangan dalam beriman kepada hal yang ghaib dan yang menggunakan rasional/akal. Ada beberapa hal yang tdk bisa diterima secara rasional atau masuk akal maka kita diperintahkan oleh Allah SWT… Sami’na Wa’atho’na (Kami Dengar dan Kami Taat)… Contoh: setelah meninggal akan dibangkitkan lagi…tdk bisa dipahami secara rasional tetapi dengan keimanan pada yang ghaib. Tetapi untuk penomena2 yang ada di alam, gunakan akal kita, Allah memberikan kesempatan untuk berpikir.

  • Pesan keseimbangan ini bahwa kita jadi umat yang Wasath, bila kita bisa menyeimbangkan antara keyakinan akan hal yang ghaib dan berfikir secara rasional, tidak semuanya difikirkan secara rasional ataupun sebaliknya….(Itulah Umat yang Wasath

4. Adil atau Seimbang dalam menempatkan posisi kebutuhan materi, akal, dan ruhani.

Kita harus menempatkan keseimbangan antara kebutuhan materi/fisik, kebutuhan akal untuk berpikir dan kebutuhan ruhani /spiritual. Tidak terus mengejar materi yang bersifat duniawi tetapi spiritual sebagai kebutuhan ruhani diabaikan…maka akan mudah galau, tidak bersyukur dan bisa menjauhkan dari Allah. Contoh: Seseorang yang banting tulang mencari rezeki , sementara ruhani kosong, tdk pernah ikut pengajian/kajian, maka akan dipastikan hidupnya akan kesulitan/bisa menjauhkan diri dari Allah SWT. Begitu pula kebutuhan akal untuk berfikir dengan cara terus menuntut ilmu sehingga akalnya bisa dipakai.

  • Pesan keseimbangan ini bahwa kita jadi umat yang Wasath, bila kita bisa menyeimbangkan anatara kebutuhan secara materi/fisik; ruhani/spiritual; dan dan akal, sehingga hidup kita dan yang kita usahakan akan mempunyai nilai ibadah dan akan terus berupaya memperbaiki diri menjadi lebih baik….(Itulah Umat yang Wasath)

5. Adil atau Seimbang dalam menempatkan posisi dunia dan akhirat.

Kita harus bisa menempatkan keseimbangan antara dunia dan akherat. Dunia sebagai jembatan menuju akherat. Ambil sebanyak-banyaknya kesempatan di dunia ini untuk mengumpulkan amal-amal kebaikan untuk bekal nanti di akherat. Menjadi timbangan amal kebaikan. Perkataan seorang sahabat Nabi yang bernama Abdullah bin Amr bin al-Ash radhiyallahu anhu. “Bekerjalah engkau untuk kepentingan duniamu seakan-akan engkau akan hidup selamanya, dan bekerjalah engkau untuk kepentingan akhiratmu seakan-akan engkau akan mati besok’. Ungkapan ini memotivasi kita untuk bekerja maksimal/berintegrasi tinggi di dunia sekarang. Saat kita bekerja, bekerjalah sungguh-sungguh penuh ketekunan. Begitu pula saat beribadah, sunguh-sungguh, penuh pengharapan balasan dari Allah SWT, seolah-olah kita  akan mati besok. Hal ini antara lain dapat dilihat dalam salah satu ayat Al-Qur’an dalam Surat S. Al-Qashash (28): 77 yang menyatakan:

“Dan carilah (kebahagiaan) negeri akhirat pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, dan janganlah engkau melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi, dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”

  • Pesan keseimbangan ini bahwa kita jadi umat yang Wasath, bila kita bisa menyeimbangkan antara urusan dunia dan akherat. Tidak hanya dunia yang terus dikejar karena kita akan dipertanggungjawabkan nanti di akherat. Begitu pula tidak hanya akherat yang dikejar tapi jadikan dunia sebagai ladang amal untuk menuai hasilnya nanti di akherat.….(Itulah Umat yang Wasath)

6. Adil atau Seimbang dalam menempatkan peran pria dan wanita; yang satu sama lain saling melengkapi.

Kita harus bisa menempatkan keseimbangan peran pria dan wanita. Seimbang atau adil disini bukan berarti sama karena jelas secara fisik, biologis, psikologis berbeda antara pria dan wanita. Pria dilebihkan oleh Allah satu derajat lebih karena tanggungjawabnya sebagai kepala rumah tangga. Dan Allah pun memberi kemuliaan kepada wanita dengan perannya sehingga bisa melahirkan kita dari ibu-ibu kita. Allah sangat ketat menjaga rambu-rambu hubungan pria dan wanita yang bukan muhrim karena Allah mengetahui kecenderungannya masing-masing. Semuanya mempunyai peran yang seimbang dalam rumah tangga.

Menurut Syaikh Yusuf Qardhawy, Islam memberikan peluang kepada kaum wanita untuk aktif dalam berbagai bidang kehidupan, sebagaimana firman Allah “orang-orang beriman bagi pria dan wanita saling menjadi auliya antara satu sama lain” (Qur’an Surah AT Taubah:7). Pengertian kata “Auliya” dalam ayat tersebut secara definitif mencakup kerjasama, bantuan, saling pengertian dalam konteks saling menyuruh untuk mengerjakan yang ma’ruf dan mencegah dari kemungkaran.

  • Pesan keseimbangan ini bahwa kita jadi umat yang Wasath, bila kita harus bisa menempatkan peran yang seimbang antar pria dan wanita. Tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah dalm peran masing-masing. Baik pria dan wanita mempunyai hak yang sama dalam amal ma’ruf nahi munkar. Dalam kehidupan rumah tangga, wanita menjadi pakaian bagi pria. Begitu pula pria menjadi pemimpin dalam keluarga dan akan dipertanggungjawabkan di akherat”

Setelah selesai mendengarkan ceramah, warga pun melanjutkan aktivitas dengan makan siang dan beramah tamah.

Muelheim an der Ruhr, 08.03.2015

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *