[Merajut Cinta Al-Qur’an dan Jebakan Persepsi] DR. Saiful Bahri, M.A

Semua yang bersentuhan dengan al-Quran menjadi yang terbaik. Malaikat pembawanya adalah malaikat terbaik, Jibril alaihissalam. Nabi yang menerimanya, Nabi Muhammad SAW menjadi nabi dan rasul yang terbaik. Malam yang menjadi sarana waktu turunnya, menjadi malam yang terbaik (lailatul qadar). Bulan yang di dalamnya diturunkan al-Quran menjadi bulan terbaik (Ramadan). Maka, umat yang menerima dan kemudian mengamalkannya, membaca dan mengajarkannya, akan menjadi umat dan manusia terbaik.

Lailatul qadr artinya bermacam-macam, diantaranya bermakna malam yang memiliki kedudukan dan kemuliaan. Maka, perbuatan baik yang dilakukan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah pada malam itu, akan sangat dimuliakan Allah.
Allah jadikan sebuah malam sebagai fasilitas waktu diturunkan-Nya kalam-Nya yang suci diperuntukkan kepada umat manusia melalui kekasih-Nya, Muhammad SAW. Al-Quran yang mulia itu menularkan keberkahan bagi sebuah malam yang akan terus dimuliakan sepanjang masa. Kebaikan yang hanya bisa ditakar oleh Sang Pemiliknya. Melebihi kebaikan seribu bulan Allah sangat mengistimewakan malam itu. Malam yang hanya sebagian saja dari waktunya dijadikan Allah sebagai fasilitator turunnya kalam-kalam suci itu dari lauh mahfuzh-Nya. Bulan yang di dalamnya terdapat satu malam tersebut juga kemudian dimuliakan oleh Allah melebihi bulan-bulan lainnya. Di bulan ini, Allah wajibkan puasa yang menjadi ibadah khusus antara Dia dan hamba-Nya. Karena hanya Dia saja yang sanggup memberikan balasan, karena puasa tak bisa dikalkulasikan dengan angka-angka.
Menariknya, adalah Allah mengatakan bahwa malam lailatul qadar ini lebih baik dari “seribu bulan”. Kalimat seribu bulan memiliki kedalaman makna. Allah tak menggantikannya dengan tiga puluh ribu malam yang juga senilai seribu bulan, atau dengan delapan puluh empat tahun yang juga setara dengan seribu bulan.

1. membandingkan malam lailatul qadar yang personal dengan seribu bulan yang komunal memiliki tujuan khusus untuk meninggikan nilai keistimewaan malam ini secara komunal.

2. malam lailatul qadar yang dirahasiakan tersebut memiliki arti bahwa untuk mengejar kebaikan di malam tersebut tidaklah bisa ditempuh dengan cara-cara instan. Karena kebaikan tidaklah datang dengan tiba-tiba, namun perlu pembiasaan dan bertahap dalam melakukan dan menebarkannya. Dan seandainya hijab dibuka maka kemungkinan besar malam-malam lainnya akan ditinggalkan oleh orang-orang yang malas.

4. jika menilik dari susunan redaksi al-Quran secara zhahir, seolah-olah malam ini hanya terjadi sekali saja, yaitu ketika Allah menurunkan al-Quran. Baik bagi pendapat yang mengatakan itu terjadi di baitul izzah ataupun yang berpendapat mulai diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Namun, menurut jumhur ulama malam lailatul qadar ini terjadi setiap tahun. Mengingat Rasulullah SAW menyuruh umat Islam untuk berburu kebaikan lailatul qadar di bulan Ramadan. Terkhusus di malam-malam terakhir di bulan Ramadan.

Generasi Terbaik

Abu Musa al Asy’ari meriwayatkan sabda Rasulullah Saw. “Perumpamaan seorang mukmin yang membaca Al Qur’an seperti buah Utrujjah, baunya harum dan rasanya enak. Sedang orang mukmin yang tak suka membaca Al Qur’an bagaikan buah Tamr, tak ada baunya dan rasanya manis….” (HR. Bukhari Muslim)

Perumpaan yang indah. Mukmin yang mencintai al-Quran harumnya sangat wangi dan rasanya sangat enak. Maka sangat wajar malam lailatul qadar sangat mulia. Nilainya secara personal mengalahkan seribu bulan yang komunal yang terdiri dari puluhan ribu malam lainnya. Sebuah perbandingan yang sangat jelas menuntun kita untuk makin dekat dengan al-Quran.
Generasi-generasi pertama yang dekat dengan al-Quran memiliki kualitas yang terbukti mengalahkan puluhan ribu orang, berbagai kaum di berbagai dunia dengan penaklukan-penaklukan yang dilakukan pada masa sahabat. Jiwa-jiwa yang terpatri al-Quran tak gentar berhadapan dengan apapun, tak takut melampaui berbagai rintangan apapun, tak menyerah di depan tantangan apapun, memiliki cita-cita yang tak terukur oleh usia mereka. Kekal terukir dalam tinta emas sejarah. Generasi-generasi al-Quran tersebut mampu memberikan sumbangan riil kepada peradaban manusia dan kemudian dikenang oleh orang yang datang setelahnya.

Keistimewaan lainnya malam al-qadar adalah bahwa di malam tersebut para malaikat Allah turun mengawal kalam-Nya yang suci yang diturunkan untuk mengatur segala urusan makhluk-Nya. Malaikat-malaikat tersebut jumlahnya sangat banyak. Menjejali semesta dengan keramaiannya, memenuhi langit dan menutupinya. Serempak turun ke bumi dipimpin oleh Jibril alaihissalam kekasih Allah, pimpinan para malaikat. Mereka membawa kedamaian ke bumi hingga fajar menyingsing. Kedamaian yang hanya Allah saja yang ketahui hakikatnya. Kedamaian yang sanggup meredam segala keburukan malam itu. Kedamaian yang dititahkan untuk mengiringi kemuliaan malam tersebut. Malam yang bersentuhan dengan kalam yang dimuliakan dari Sang Maha Mulia. Fajar baru menyingsing memberkan harapan kebaikan bagi para makhluk-Nya. Khususnya mereka yang memburu kemuliaan di malam tersebut dengan memuliakan al-Quran.

Nikmat Agung

Nama Allah, Ar-Rahman menjadi satu-satunya nama yang dipakai sebagai nama surah di dalam al-Quran. Ini merepresentasikan nama-nama lainnya, menggabungkan antara sifat keindahan (al-jamâliyah) dan sifat keagungan (al-jalâliyah). Selain itu, ar-Rahman adalah bentuk superlatif kasih sayang Allah yang diberikan kepada siapa saja, yang taat dan yang bermaksiat, yang baik dan yang buruk, yang zhalim dan yang terzhalimi. Namun, Allah menekankan bahwa karunia terbesarnya disebutkan langsung di ayat kedua surah ar-Rahmân, yaitu nikmat al-Quran.
Al-Quran adalah pedoman meraih prestasi dan kebahagiaan. Panduan meniti jalan yang benar dan sampai pada tujuan utama diciptakannya manusia oleh Allah sebagai khalifah di bumi-Nya.
Pembuka yang Dahsyat

Surah al-Fatihah menjadi surat pertama yang membuka mushaf al-Quran. Surat yang disebut ummul kitab ini merupakan inti dari al-Quran. Di dalamnya menggambarkan keagungan Allah yang mutlak. Dia lah satu-satunya yang berhak dipuji dan ditinggikan. Sebagai Tuhan dari segala alam, mengajarkan manusia konsep multiversi (al-‘âlamîn). Selama ini manusia hanya berkonsentrasi pada satu kehidupan di satu alam saja (universi). Nama-Nya yang agung, yang mahakasih dan mahasayang. Pemilik segala yang sanggup berbuat apa saja yang dikehendaki-Nya.

Allah mengajarkan kepada manusia cara berdoa dan pasrah kepadanya. Kata “iyyaka na’budu” dengan mendahulukan obyek mengajarkan posisi Allah yang harus dikedepankan. Kata “iyyaka” yang berarti “hanya kepada-Mu”, agar seorang yang membacanya terutama dalam setiap rakaat shalat menghadirkan Allah dan berdialog langsung kepada-Nya.
Al-Quran merupakan pedoman dan petunjuk bagi umat manusia. Namun, petunjuk tersebut hanya benar-benar bermanfaat bagi yang mau mengimaninya, kemudian membacanya dan menelaahnya. Karena itu al-Quran menyebutnya sebagai “hudan linnas” sebagai potensi petunjuk bagi semua manusia, dan “hudan lil muttaqin” menjadi petunjuk bagi orang bertakwa yang berinteraksi langsung dengan al-Quran.

Al-Quran berisi tentang doktrin kekokohan akidah dan iman, membangun kepercayaan pada Allah, kitab-kitab-Nya, Rasul-Nya, malaikat-Nya, hari kebangkitan dan pembalasan serta terhadap takdir-Nya. Di dalamnya, terdapat panduan syariah dan hukum yang dipakai untuk mengatur dan menuntun manusia agar selamat dan bahagia di dunia dan di akhirat.
Akhlak adalah di antara bagian terpenting yang dipaparkan di dalam al-Quran. Baik dalam bentuk konsep maupun melalui kisah-kisah dan tokoh-tokoh yang disebut di dalamnya.

Era Kemajuan Teknologi

Di era kemajuan teknologi, revolusi telekomunikasi dan populernya media sosial, manusia perlu bimbingan agar tidak kehilangan arah dan menjadi korban dampak negatifnya. Salah satu bahasan menonjol saat ini adalah tentang berita bohong (hoax). Al-Quran secara istilah mungkin tidak menyebut istilah-istilah yang digunakan di era sekarang, namun konten tersebut bisa dibaca di banyak ayat di dalam al-Quran. Berita bohong/dusta pernah menggerogoti keharmonisan keluarga Rasulullah SAW dan kehidupan sosial kota Madinah, Aisyah r.a menjadi tumbalnya.

Jebakan persepsi juga pernah nyaris mengakibatkan pertumpahan darah yang hebat, al-Walid bin ‘Uqbah seorang sahabat pilihan Rasul saw ditegur keras oleh Allah melalui Surah al-Hujurât.
Dahsyatnya kemujizatan al-Quran akan semakin terasa bila kita mengalir bersama kisah-kisah al-Quran dan seolah mendapatkan visualisasi yang dialami langsung oleh para pelakunya. Kisah-kisah nyata yang sudah sangat lama tersebut akan sangat dekat menemani setiap kita dalam berbagai kondisi, suka dan duka, saat bersemangat atau ketika terzhalimi, saat sendiri atau ketika bersama-sama dalam suatu komunitas.

Di dalam al-Quran juga terdapat isyarat-isyarat keilmuan yang jika diungkap oleh para pakar dengan pendekatan saintifik maka akan semakin membuka wawasan kemukjizatan yang luar biasa.
Bahasa al-Quran bukan hanya indah ketika dibaca dan dipelajari, namun memiliki pengaruh bagi jiwa dan perilaku manusia. Terutama mereka yang mengetahui dan mau berinteraksi dengannya.
Bulan Ramadan segera datang. Sambutlah kebaikan-kebaikannya. Terutama kebaikan al-Quran yang akan mengantarkan siapa saja yang berinteraksi dengannya menjadi yang terbaik, melebihi seribu komunitas. Jadilah orang-orang yang mensyukuri nikmat al-Quran. Menjemput kebaikan dan keberkahan yang telah Allah sediakan.
Duisburg, 09.05.2918

IG: drsaifulbahri
Twitter: @L_saba 
Fanpage: Halaqah Tadabbur Al-Quran 
Youtube: Halaqah Tadabbur Al-Quran
http://www.saifulelsaba.wordpress.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *