Umat yang di Pertengahan

Assalamualikum Wr.Wb,

Pagi menjelang siang, Duisburg kembali sejuk akan suasana pengajian Muslim Ruhr yang selalu dirindukan oleh kaum rantau Indonesia di sini, tepatnya di kota-kota sepanjang aliran sungai Ruhr yang sangat indah ini. Kali ini 06.04.2015 pukul 11 menjelang siang, Rumah Udo Fadli kembali ramai riuh oleh Bapak-Ibu mas-mas, mbak-mbak, dedek-dedek yang senantiasa penuh riang dan haus akan siraman qolbu islami.

IMG_9623

Pembicaranya tak tanggung-tanggung, “senior” mantan perantau muslim di Aachen yang baru saja hijrah ke Dusseldorf beberapa pekan lalu, beliau adalah Ust. Ajisaka.

Tak seperti biasa memang hari itu, karena terselip acara pemilihan ketua Muslim Ruhr selanjutnya dan sekaligus pindah jabatan. Terasa begitu cepat waktu setahun kepemimpinan Bpk Romadhani Ardi berlalu. Dan Alhamdulillah ketua terpilih mutlak Bpk Dien Taufan Lessy, arjuna dari Ambon semakin memperkuat ukhuwah di tanah Ruhr tercinta ini.

IMG_9682

Tak usah panjang lebar, mari kita menuju ulasan ringkas tentang “Umat Yang di Pertengahan” yang menjadi sangat krusial di jaman sekarang terlebih kita yang berada di tanah rantau yang jauh ini.

—–

Hidup di zaman di mana kebatilan merajalela dimana-mana sebagai muslim kita wajib menyikapinya dengan sebaik-baiknya sesuai dengan tuntunan agama kita yang lurus. Seorang muslim, kita haruslah menjadi umat yang berada dipertengahan. Apakah itu umat yang ada dipertengahan? Berikut akan dijabarkan mengenai hal tersebut.

Sebuah riwayat hadist menjelaskan mengenai bagaimana menjadi umat yang dipertengahan, yang mengamalkan ajaran agama dengan lurus sesuai dengan Al-Qur’an dan sunnah Rasul SAW.

Tiga orang datang ke rumah istri Rasul menanyakan mengenai ibadah Rasulullah SAW. Ketika dideskripsikan bagaimana ibadah Rasul lalu mereka menganggap bahwa apa yang selama ini mereka kerjakan tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan ibadah Rasul. Kemudian mereka mengambil kesimpulan sendiri, kalau Rasul saja yang sudah dijamin masuk surga oleh Allah melakukan ibadah seperti itu bagaimana nasib mereka yang sama sekali tidak memiliki jaminan untuk masuk surga. Lalu dari ketiga orang tadi, salah satunya berkata, “ kalau begitu untuk mengimbangi ibadah Rasul, maka saya akan salat malam selama-lamanya dan tidak akan pernah tidur.” Lalu orang yang kedua berkata, “kalau kamu seperti itu, maka saya akan shaum selama-lamanya tanpa henti setiap hari.” Dan orang yang ketiga berkata, “saya tidak akan mendekati perempuan, saya akan membujang selamanya karena saya takut dengan menikah akan mengganggu ibadah saya.” Akhirnya ketiga orang tersebut memutuskan hal tersebut yang telah diucapkan oleh masing-masing. Kabar dari ketiga orang ini sampai ke telinga Rasul, dan beliau berkata, “kalian yang berkata ini dan itu demi Allah, aku adalah orang yang paling takut kepada Allah dan paling bertaqwa kepadanya akan tetapi aku berpuasa dan aku berbuka, aku solat dan aku tidur, lalu aku juga menikah, barang siapa membenci sunnahku, maka dia bukan dari golonganku.”

Kalimat Rasul yang terakhir harus kita garis bawahi bahwasanya Rasul sudah memberikan batasan kepada umat muslim untuk beribadah sesuai dengan Al-Qur’an dan sunah Rasul, tidak boleh berlebihan dalam beribadah melampaui sunahnya. Sebagai umat muslim, kita harus berada dipertengahan, tidak berlebihan dalam melakukan ibadah namun juga tidak mengabaikannya, akan tetapi beribadah secukupnya sesuai dengan apa yang telah dicontohkan oleh Rasul.

Dari situ kita bisa melihat bahwa Islam adalah ajaran yang lurus yang tidak mengajarkan untuk berlebihan dalam sesuatu meskipun itu dalam hal kebaikan (ibadah), segala sesuatunya harus ada di pertengahan, tidak berlebihan dan tidak juga kurang. Selain dalam hal ibadah, kita juga harus berada di pertengahan dalam hal pemikiran kita, ini menjadi hal yang sangat penting karena tingkah laku kita dipengaruhi oleh pemikiran kita. Apabila pemikiran kita melenceng, maka amalan kita pun akan ikut melenceng dan tidak sesuai dengan Al-quran dan sunah.

Berbicara mengenai pemikiran, dewasa ini, umat muslim seakan-akan terdiri atas dua kutub, yang pertama kutub yang terlalu ke kiri yaitu umat muslim yang menyebut dirinya muslim yang menganut paham sepilis, yang mana mereka memiliki pemikiran yang liberal yang keluar dari Al-Quran dan sunah dikarenakan mereka menafsirkan Al-Quran dan sunah tidak dengan ilmu yang mumpuni dan yang kedua adalah kutub yang terlalu ke kanan, mereka adalah kelompok umat muslim yang benar-benar memahami Al-Quran dan sunah dengan ilmu yang mumpuni namun tidak ditelaah lebih lanjut sehingga menjadi tidak tepat. Oleh karena itu penting bagi kita untuk mengetahui apa saja penyakit-penyakit yang membahayakan pemikiran kita saat ini.

Sepilis (Sekularisme, Pluralisme, dan Liberalisme)

Sepilis merupakan salah satu pemikiran yang sangat berbahaya karena akan merusak akidah, akhlak, dan amalan kita.

  1. Pluralisme

MUI mendefinisikan pluralisme agama sebagai paham yang mengajarkan bahwa semua agama adalah sama, dan karenanya kebenaran semua agama adalah relatif, oleh sebab itu setiap pengikut agama tidak boleh menyatakan bahwa agamanya adalah benar dan agama yang lain salah. Pemikiran ini juga menyatakan bahwa kelak semua pemeluk agama akan masuk dan hidup berdampingan di surga. Tentu saja pemikiran seperti ini sangat bertentangan dengan ajaran agama kita, karena pada pluralisme disebutkan bahwa kebenaran itu relatif dan kitapun tidak boleh beranggapan bahwa ajaran agama kita adalah benar, sedangkan dalam Islam kebenaran itu absolut dan datangnya hanya dari Allah dan tentu saja hanya Islam lah agama yang benar dan kita berhak berpendirian dan beranggapan bahwa keyakinan kita adalah benar. Namun walaupun kita meyakini bahwa agama kita benar, bukan berarti kita boleh menghina keyakinan dan mengatakan bahwa keyakinan mereka salah, kita tetap harus menghormati keyakinan mereka, karena dalam Islam ada rambu-rambu yang sudah diterangkan dalam al qur’an yang dinyatakan dalam surat Al-An’am ayat 108 yang artinya “Dan janganlah kamu memaki sembahan2 yang mereka yakini selain Allah”. Pemikiran pluralisme bisa memicu sikap egaliter dalam berkeyakinan, yang akhirnya menganggap semua agama sama, sehingga kita akan turut merayakan atau mengikuti peribadatan keyakinan lain.

  1. Liberalisme

Memahami Al-Quran dan sunah dengan pemahaman yang liar (bebas) dan hanya menerima pemikiran atau doktrin agama yang hanya sesuai dengan akal pikiran dan hawa nafsu semata. Sehingga mereka menafsirkan Al-Quran dan sunah sebebasnya dan hanya mengambil aturan-aturan dan faham yang mereka anggap sesuai dengan keinginan mereka (enak) sedangkan yang tidak sesuai dengan keinginan mereka, mereka tinggalkan. Mereka tidak menggunakan instrument yang tepat dalam memahami Islam. Pemikiran seperti ini memperlihatkan bahwa mereka adalah orang-orang yang tidak memiliki cukup ilmu dan mendefinisikan dan memahami Islam sesuka hati mereka. Bahaya dari pemahaman ini adalah maka kita tidak akan pernah mendapatkan pemahaman yang utuh dan lengkap mengenai Islam, dan juga tidak benar.

  1. Sekularisme
    Memisahkan urusan dunia dengan agama. Agama hanya mengatur urusan pribadi seseorang dengan Tuhan, sedangkan urusan dunia diatur hanya berdasarkan dengan kesepakatan sosial.Namun sebagai muslim kita diajarkan bahwa Islam mengatur segala sendi kehidupan kita baik kehidupan dunia, kehidupan sosial kita dengan sesama dan beribadah kepada Tuhan. Pada jaman dahulu Islam bisa berjaya karena muslim tidak memisahkan antara agama dengan kehidupan dunia, sehingga grafik kehidupannya ada di atas. Sedangkan orang-orang eropa dahulu tidak memisahkan antara agama dengan dunia membuat mereka tidak berjaya didunia ini sehingga grafik kehidupannya di bawah. Sedangkan saat ini hampir kebanyakan muslim memisahkan antara agama dengan kehidupan dunianya yang mana mereka mengabaikan agama ketika mereka menjalani kehidupan mereka sehari-hari sehingga lambat laun namun pasti, grafik kehidupan kaum muslim semakin lama semakin menurun. Sedangkan yang terjadi pada orang-orang Eropa sebaliknya, mereka kini memisahkan antara agama dengan kehidupan sehari namun grafik kehidupannya semakin meningkat. Dari situ bisa kita lihat, bahwa muslim telah meninggalkan sesuatu yang baik sehingga kehidupan mereka menjadi lebih buruk, sedangkan orang-orang eropa telah meninggalkan sesuatu yang buruk sehingga kehidupan mereka menjadi lebih baik dari sebelumnya

Pemikiran di atas merupakan pemikiran umat muslim yang terlalu ke kiri, yang tidak memahami dan memiliki ilmu yang mumpuni mengenai Islam. Selanjutnya merupakan pemikiran umat muslim yang terlalu ke kanan, yang sama bahayanya dengan pemikiran yang terlalu ke kiri.

Pada zaman sahabat ada kaum yang dinamakan kaum khwarij. Yang merupakan kaum yang memiliki pemahaman agama yang baik, namun tidak menjadikan mereka muslim yang baik. Berikut di bawah ini hadis-hadis yang menjelaskan mengenai kaum ini.

Abu Said al Khudri berkata; Sewaktu Rasulullah saw sedang membahagi-bagikan harta (kepada kaum Muslimin) tiba-tiba Dhul Khuwaysirah al Tamimiy datang dan berkata: ”Berlakulah adil wahai rasulullah”. Mendengar teguran yang kasar itu baginda berkata: ”Celakalah kamu, siapakah yang akan menegakkan keadilan sekiranya aku tidak melakukannya?”. Umar bin Khtatab mencelah, ”Wahai Rasulullah, adakah Anda membenarkanku untuk memancung lehernya?”. Baginda menjawab: ” Biarkanlah dia karena suatu hari nanti dia akan mempunyai pengikut yang akan mencela shalat kamu semua dengan membandingkan dengan shalat mereka, mereka juga mencerca puasa kamu dibandingkan dengan puasa mereka, mereka keluar daripada agama (Islam ) sederas anak panah yang keluar daripada busurnya ” (Hadis Sahih Muslim/2456; Sahih Bukhari/6933; Kitab Muwattha/156; Sunan Abu Daud/6741).

Said al Khudri menyatakan bahwa Rasulullah saw bersabda: ”Nanti akan muncul diantara kamu kaum yang menghina shalat kamu dibandingkan dengan shalat mereka, dan puasa kamu dibandingkan dengan puasa mereka, amal perbuatan kamu dibandingkan dengan amap perbuatan mereka, mereka itu membaca Al-Quran tetapi bacaan mereka tidakakan melewati kerongkongan mereka, dan mereka akan memecah agama sebagaimana anak panah keluar dari busurnya ” (Sahih Bukhari/5058 ).

Sayidina Ali bin Abi Thalib menyatakan bahwasanya dia mendengar Rasulullah saw bersabda: ”Pada akhir zaman nanti akn muncul kaum berusia muda (ahdasul asnan) berpikiran pendek (sufahaul ahlam), mereka memperkatakan sebaik-baik ucapan kebaikan, mereka membaca Al-Quran tetapi bacaan mereka itu tidak melebihi (melampui) kerongkongan mereka, mereka memecah agama sebagaimana keluarnya anak panah dari busurnya maka dimanapun kamu menjumpainya maka perangilah mereka sebab dalam memerangi mereka terdapat pahala disisi Allah pada hari kiamat kelak. ” (Sahih Bukhari/6930, Sahih Muslim/2462, Sunan Abu Daud/4767, Sunan Nasai/4107 Sunan Ibnu Majah/168, Sunan Ahmad/616 ).

Dari hadis-hadis di atas, ada sifat-sifat dari kaum khwarij yang harus kita waspadai, yang bisa jadi kita memiliki sifat tersebut.

  1. Mereka suka mencela, suka menuduh orang lain sesat dan merasa paling benar.
  2. Suka berburuk sangka
  3. Bersikap keras dan kasar kepada sesama muslim tapi sangat lembut hati kepada non muslim.
IMG_9727

Sebagai muslim kita harus menjadi umat yang dipertengahan. Kita harus menghindari sifat-sifat yang dimiliki kedua kutub yang telah dijelaskan di atas. Kita harus selalu berpegang tegung dengan ajaran agama kita sesuai dengan Al-Qur’an dan hadis, tidak melenceng ke kiri dan tidak juga melenceng ke kanan, tapi selalu lurus di pertengahan. Kita tidak boleh berlebih-lebihan dalam beribadah yang pada akhirnya melenceng dari apa yang sudah dicontohkan oleh rasul, dan kita juga tidak boleh mengabaikan agama kita.

IMG_9729

Semoga apa yang disampaikan bias menjadi peringatan, dorongan, dan pastinya manfaat yang besar di dunia dan akhirat nanti, aamiiin. Mohon dimaafkan jika penulis ada banyak salah kata, kebenaran hanya milik Alloh semata, kesalahan milik saya, akhir kata,

Wassalamualaikum Wr.Wb.

DC

1 thought on “Umat yang di Pertengahan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *